Minggu, 25 September 2011

ISLAM DAN BAHAYA RADIKALISME DI DALAM BERAGAMA

Islam Dan Bahaya Radikalisme di Dalam Beragama

By : Arifin

I. PENDAHULUAN

Truth klaim, apakah itu diperlukan didalam beragama? Memang benar truth klaim itu dibutuhkan didalam beragama tetapi harus diimbangi dengan wawasan yang luas supaya tidak terjadi salah dalam penafsiran. Didalam beragama diperbolehkan mengklaim agamanya yang paling benar tanpa menyalahkan agama lain didepan para pemeluk agama yang menganutnya apa lagi memaksakkan secara halus ataupun kasar agar penganut agama lain memeluk agama yang dianutnya.
Tidak jarang orang melakukan tindakan konyol yang tidak berperikemanusiaan berupa pembantaian massal atas nama agama, seperti kasus genosida. Genosida atau genosid adalah sebuah pembantaian besar-basaran secara sitematis terhadap suatu suku bangsa dan kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat musnah) bangsa tersebut. kata ini pertama kali digunakna oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkim pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Role in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serikat. Kata ini diambil dari bahasa Yunani Genos (Ras bangsa/ rakyat) dan bahasa Latin Caedere (pembunuhan). Nama lain dari Genosid adalah Holocaus. Holocaust berasal dari bahasa Yunani kuno yang artinya pengorbanan kepada dewa yang seluruhnya dibakar di altar. Dan kata itu digunakan sebagai ungkapan penghalus untuk pembunuhan masal. Dan inilah ungkapan dari seorang Adolf Hitler yang paling fenomenal dalam kasus genosida, ”Kalau saya benar-benar berkuasa,orang-orang Yahudi akan digantung satu per satu, sampai tanah Jerman bersih dari Yahudi”.
Fanatik didalam beragama itu diperbolehkan bahkan itu diharuskan, karena Meyakini kebenaran agama atau keyakinan yang dianutnya bisa menimbulkan semangat untuk berperilaku dan bertindak-tanduk sesuai dengan prinsip atau ajaran yang disampaikannya. Sikap yang demikian adalah baik, bahkan sangat dianjurkan dalam beragama. Jadi, sikap fanatik dalam beragama yang diartikan sebagai keyakinan yang kuat terhadap kebenaran suatu agama, menimbulkan perilaku yang positif dan sangat diperlukan dalam beragama. Yang kurang disetujui didalam perilaku beragama adalah tindakan yang radikal karena dapat mengancam kerukunan antar umat beragama. Didalam makalah ini akan membahas mengenai Islam dan bahaya radikalisme beragama di masa kini.



II. PEMBAHASAN

Konflik pada dasarnya merupakan situasi yang melibatkan paling tidak dua pihak. Sedangkan pertikaian, dapat diartikan sebagai situasi persaingan dimana kelompok bertikai sadar adanya ketidakcocokan kedudukan potensial dimasa depan dan dimana masing-masing kelompok bertikai berharap memperoleh kedudukan yang tidak cocok dengan harapan kelompok lain. Jadi pengertian konflik ini mengandung dua kata pokok, yaitu kesadaran dan harapan (Boulding, 1963: 6)
Pola hubungan konflik etnik lebih menekankan pada konflik yang berlangsung ketika kelompok-kelompok etnik malakukan kontak. Menurut Mason (1970), ada tiga model konflik, yaitu; pemusnahan (genocide), perpindahan penduduk (population transwer), dan penaklukan ( subjugation).
Model pemusnahan menyertakan usaha sistematik untuk membunuh atau menghancurkan seluruh penduduk atau ras tertentu. Model pemusnahan lazimnya didasarkan pada ideology rasis yang mengunggulkan salah satu ras yang dominan. Pemusnahan merupakan akibat yang tragis yang dilakukan oleh suatu golongan untuk memantapkan dominasinya atas golongan ras atau etnik lain.
Perpindahan penduduk merupakan cara lain dimana suatu kelompok bisa berupaya mencari dominasi terhadap kelompok yang lain. Dalam model konflik ini, suatu kelompok dipaksa untuk meninggalkan masyarakat setempat dengan meninggalkan lokasi tersebut. Penaklukan merupakan pola paling umum dalam konflik antar golongan. Model ini menunjukkan dimana kelompok mayoritas menikmati akses lebih besar dari kelompok yang minoritas.
Dalam pola pengusiran atau ekspulsi, golongan minoritas dikeluarkan dari masyarakat. Tidak jarang anggota kelompok minoritas dipaksa untuk meninggalkan segala yang mereka miliki, walaupun keputusan perpindahan kelompok minoritas mungkin dilakukan dengan sukarela, tetapi keputusan itu muncul diakibatkan tekanan oleh kelompok dominan.
Dalam kehidupan beragama juga dikenal beberapa istilah diantaranya: Eksklusivisme, yaitu bahwa kebenaran mutlak yang hanya dimiliki suatu agama tertentu secara eksklusif. Klaim ini tidak memberikan pilihan lain. Klaim tidak memberikan konsesi sedikitpun dan tidak mengenal kompromi. Ia memandang kebenaran (truth) secara hitam-putih. Klaim kebenaran absolut ini secara umum terdapat di setiap agama. Namun ia dilakukan secara nyata oleh agama-agama semitik: Yudaisme, Kristen dan Islam, yang mana masing-masing saling mengklaim diri yang paling benar. Dan klaim eksklusivitas dan absolutisme kebenaran ini kemudian ditopang dengan konsep juridis tentang “keselamatan” dimana masing-masing agama tersebut mengklaim diri sebagai satu-satunya “ruang” yang hanya di dalamnya, atau “jalan” soteriologis yang hanya melaluinya, manusia dapat mendapatkan keselamatan, kebebasan, pencerahan dan suatu hal yang semakin menambah mantap dan kuatnya klaim kebenaran absolut dan eksklusif tersebut. Yudaisme, dengan doktrin “orang-orang terpilih”-nya, hanya mengakui kebenaran, kesalehan, dan keselamatan atas dasar etnisitas yang sangat sempit, yaitu bangsa Yahudi saja; Katolik dengan doktrin “extra ecclesiam nulla salus”-nya dan Protestan dengan doktrin “diluar Kristen tidak ada keselamatan”-nya menentukan status kesalehan dan keselamatan seseorang hanya dengan iman pada pengorbanan Yesus Kristus di atas tiang salib sebagai tebusan dosa warisan sementara Islam dengan firman Allah s.w.t. dalam al-Qur’an: “agama yang diridhoi Allah adalah agama islam” meniscayakan kepasrahan dan ketundukan total (berislam) kepada Allah s.w.t. sajalah seseorang bisa mendapatkan keselamatan.
Inklusivisme merupakan bentuk klaim kebenaran absolut yang lebih longgar. Di satu pihak, inklusivisme masih tetap meyakini bahwa hanya salah satu agama saja yang benar secara absolut, tapi, di pihak lain, ia mencoba mengakomodasi konsep yuridis keselamatan dan transformasinya untuk mencakup seluruh pengikut agama lain, bukan karena agama mereka benar, tapi justru karena “limpahan berkah dan rahmat” dari kebenaran absolut yang ia miliki. Inklusivisme ini mendapatkan ekspresinya yang begitu artikulatif dalam pemikiran-pemikiran teologis yang dicoba kembangkan oleh para teolog semisal Karl Rahner dengan teori “anonymous Christian” (Kristen anonim)-nya, yang kemudian diikuti oleh Gavin D’Costa, dan Raimundo Panikkar dengan ‘the unknown Christ of Hinduism’.
Harus diakui, pada sebagian kecil umat beragama terdapat sebagian orang yang memahami agama secara banar –salah dengan sudut pandang yang sempit dan melakukan hal-hal diatas yang dianggap tindakan konyol yang tidak berperi kemanusiaan akan tatapi itu benar terjadi. Pemahaman dan penerapan yang seperti ini dapat berakibat fatal, yakni merusak hubungan umat beragama yang dibina sejak lama dengan cara-cara yang anarkis seperti melakukan terror, peledakan bom, perampokan, dengan berkeyakinan itu adalah bentuk dari pembelaan agama dan perintah agama.
Realitas-realitas didepan mata mereka yang tidak sesuai dengan harapan mereka menjadikan gerakan fundamentalis Islam bangkit menyeruak dengan api semangat yang berkobar-kobar berjuang dengan truth claim yang mereka yakini sebagai satu-satunya kebenaran. Apa yang pertama, dan salah satunya yang mereka perjuangkan adalah berdirinya sebuah negara Islam dan pemberlakuan syariah Islam. Dan perjuangan untuk menegakkan aspirasi agama mereka menjadi lebih klop dan mendapatkan momen yang tepat, karena mereka tinggal di negara yang sedang mengalami berbagai masalah yang bersifat multidimensi.
Meyakini kebenaran agama atau keyakinan yang dianutnya bisa menimbulkan semangat untuk berperilaku dan bertindak-tanduk sesuai dengan prinsip atau ajaran yang disampaikannya. Sikap yang demikian adalah baik, bahkan sangat dianjurkan dalam beragama. Jadi, sikap fanatik dalam beragama yang diartikan sebagai keyakinan yang kuat terhadap kebenaran suatu agama, menimbulkan perilaku yang positif dan sangat diperlukan dalam beragama. Akan tetapi masyarakat salah dalam mempersepsikan orang-orang yang berperilaku fanatik, orang yang melakukan kekerasan yang mengatas namakan jihad dijalan Allah justru itulah yang disebut sebagai orang yang fanatic didalam beragama.
Radikalisme dalam waktu yang lama hanya akan menjadi contoh yang buruk bagi agama yang dinilai suci oleh para penganutnya. Biasanya umat islam adalah yang paling rentan terhadap rayuan radikalisme karena posis umat islam yang masih berada diurutan belakang didalm peradapan. Pada posis ini dapat mendorong umat untuk menempuh jalan pintas dalam mencapai tujuan, tetapi didalm jangka panjang pasti akan berakhir dengan penderitaan, penyesalan dan kegagalan, serta frustasi dan kemalangan atas keadaan yang ditimpanya, sehingga dia merasa harus membalas atau melenyapkan orang-orang yang tidak seagama denganya.
Dalam sejarah umat manusia, radikalisme didalam beragama pada umumnya mengalami kegagalan, apalagi jika idiologi yang digunakan adalah kebencian dan fanatisme yang sempit. Pendukung radikalisme agama tampaknya tidak memiliki modal untuk menawarkan perdamaian dan kesejahteraan. Dan mengatasnamakan agama mereka tega membunuh, atau melakukan genosida atau pembantaian secara missal terhadap pemeluk agama lain.
“ …maka perangilah orang-orang musyirikin itu dimana saja kamu jumpai mereka...” (Qs. At Taubah: 5).
“(Dan) perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari akhir dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasulnya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberkati Alkitab kepada mereka, sampai mereka (mau) membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (dalam perang)” (Qs. At Taubah: 29).
“…dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” (Qs. At taubah: 36).
Dalil-dalil inilah yang digunakan oleh para kaum radikal untuk memusnahkan umat manusia yang dianggap kafir dan musyrik. Pemahaman yang sempit serta penafsiran yang sembarangan dan semangat yang berapi-api didalam keputusasaan dapat berakibat fatal bagi kelangsungan hidup orang-orang yang dianggap kafir dan musyrik dimanapun mereka berada, entah tua-muda, anak kecil-dewasa, pria –wanita bisa menjadi korban orang-orang radikal. Dan orang-orang radikal juga akan memaksakan agama yang dianutnya kepada pemeluk agama lain. Padahal dalam Al Quran menjelaskan:
“ Tidak ada paksaan memasuki agama…”(Qs. Al Baqarah: 256).
“ dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya: maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman semuanya” (Qs. Yunus: 99).
Dan orang radikal akan terus menebarkan terror, dan melakukan serangan yang mengatas namakan perintah agama Islam. Padahal dengan jelas Allah telah melarang melakukan pembunuhan terhadap manusia tanpa sebab yang haq. Allah berfirman:
“sesungguhnya telah kami mulaikan anak-anak Adam…” (Qs. Al Isra: 70).
“ oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah mebunuh manusia seluruhnya, barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak diantara mereka setelah itu melampaui batas bumi” ( QS. Al Maidah: 32).
Hukum pada surat Al Maidah ayat dua itu tidak hanya berlaku pada Bani Israil saja, tetapi juga untuk semua manusia. Allah memandang membunuh seorang itu bagaikan membunuh semua manusia begitu juga sebaliknya.
Islam menyuruh umat muslim untuk mendakwahkan ajaran islam kepada non-muslim dengan cara perdamaian dan menjahui peperangan. Dan didalam mendakwahkan ajaran islam umat muslim hanya bertugas untuk menyampaikan pesan bukan memaksa untuk menerima dan memeluk islam bagi pemeluk agama lain. Dan hanya Allah yang mengetahui mengenai siapa yang sesat dan yang memberi hidayah kepada orang-orang yang ditunjuknya. Allah berfirman “sesungguhnya (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-NYA dan Dialah yang mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (QS. An Nisa: 125).
Akan tetapi orang-orang radikal tidak bisa menerima hal semacam itu. Mereka beranggapan bahwa orang-orang kafir itu layak untuk dibunuh atau mereka masuk agama islam dan muslim yang tidak sepaham dengan mereka maka para muslim yang berbeda paham dengan mereka dianggap musyrik.

III. ANALISIS

Didalam menyebarkan dan mendakwahkan ajaran agama islam nabi Muhammad menggunakan cara perdamaian dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan orang-orang kafir. Dan tidak sepatutnya kita umat islam dalam mendakwahkan ajaran islam dengan pemaksaan apalagi dengan kekerasan ataupun terror. Allah berfirman:
“Dan kewajiban kami tidak lain hanylah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas” (QS. Yasin: 17).
“ Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kanu berlamu lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah, sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS. Ali Imran: 159).
“ Undanglah mereka kepada islam dan beritahu tugas-tugas mereka. Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk melalui kamu, maka lebih baik bagi kamu dari pada unta merah” (HR. Al Bukhari).
Dengan dalil diatas, menjelasakan bahwa umat muslim didalam mengajak orang-orang non-muslim untuk mendengarkan ajaran agama islam diutamakan dengan kelembutan dan perdamain lebih diutamakan dari pada dengan kekerasan.
Nabi Muhammad di utus ke bumi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Begitu juga dengan umat muslim adalah penerus nabi Muhammad, sehingga umat muslim menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah berfirman:
“Dan kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al Anbiya: 107).
Dalam ayat ini umat islam dituntut untuk menjadi rahmat bagi alam bukan untuk merusak alam. Dalam menjaga alam, bisa dilakukan dengan tidak memusnahkan kehidupan makhluk hidup lainya secara berlebihan dan jangan membunuh manusia lain berdasarkan agama karena hanya akan merusak nilai agama yang suci tersebut bagi pemeluknya.

waallahu a’lam bi asshowabi.


DAFTAR PUSTAKA

Habib, Achmad. 2004. Konflik ANTARETNIK DI PEDESAAN Pasang Surut Hubungan Cina- Jawa. Yogyakarta: LKIS Yogyakarta.

Hasan, Muhammad Hanif. 2007. Teroris Membajak Islam; Meluruskan Jihad Sesat Imam Samudra dan Kelompok Islam Radikal. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu.

Nugroho,Arifin Suryad kk. 2008. 10 Kisah Genocide. Yogyakarta: Bio Pustaka.

Sumber dari internet:
http://www.gitj.org/peran-politis-agama-dalam-negara-plural-%E2%80%9Caspirasi-atau-inspirasi%E2%80%9D (22 Mei 2011).
http://www.alifmagz.com/fanatisme-beragama-perlukah (22 mei 2011)

http://caktips.wordpress.com/2009/05/05/wacana-kebenaran-agama-dalam-perspektif-islam/ (22 Mei 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar